Monthly Archives: September 2013

A high wall

Rasanya aku kepayahan, menghadapi sesuatu yang bentuknya tidak nyata.

Rasanya aku sedang merasa tak berdaya, akan sesuatu yang datang.
Bebannya berat. Dinding yang harus ku lampui sangat lah tinggi.

Aku ingin mendengar suara orang-orang yang kusayangi.
Yang kubutuhkan, walau hanya suara saja.

Jakarta, 24 September 2013

Bintang yang paling terang

Selamat pagi.

Semalam saya tidur lebih awal. Ini semua gara-gara terlalu bahagia makan kwetiaw yang enak setelah lama ngidamnya.
Rasanya jam 8 pun sudah teler, dan membuat saya lupa diri dengan BAB II beserta Herpes Zoster. Oke lupakan.

Enggak nyangka aja ternyata semalem dapet text dari seseorang, bintang inspirasi saya. Enggak penting sih, ya tapi enggak tau juga penting/tidak. Pokoknya jam 5 pagi baru dibalas. itupun gara-gara keinget mau puasa hari ini.

Mungkin sang bintang sudah redup dikala fajar, jadi dari bumi cahaya nya tidak terlalu terlihat, tapi aku yakin dia sedang bersembunyi sembari memperhatikan.

Hari ini tidak terlalu banyak acara, kecuali dengan kerjaan yang menumpuk akibat terlalu malas menggerakan tangan. Lagipula sel abu-abu saya tampaknya masih malas beraktifitas.

Yasudah demikian saja hari ini. Semoga sang bintang tetap bersinar, semoga sang matahari selalu tegar.

Jakarta, 24 September 2013

Gadis di tepi danau

Gadis itu , berambut panjang, hitam, bergelombang sebagian bawah.
Wajah putih nya bersinar.

Gadis manis itu tersenyum, penuh rahasia.

Sekali lagi dia mengedipkan matanya.

Gadis mungil itu menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon besar ditepi danau.
Memanjakan dirinya dalam pelukan ranting-ranting tua dan balutan senja yang semakin pudar.

Bola matanya yang menyimpan misteri diarahkannya ke cahaya bulan.
Menatap sendu.

Gaunnya menjuntai ke tanah, terseret sedikit air danau yang mulai naik.
Kemudian dia merendahkan tubuhnya di tepi danau.
Melihat pantulan wajahnya berhias perhiasan malam

Terasa sempurna, terasa cantik.
Alunan melodi hutan mulai terdengar, gadis cantik itu beranjak pergi.

Melewati tanah-tanah yang basah, melangkahkan kakinya dengan anggun.
Membuat irama disetiap hentakan kakinya.

Oh, dia terlihat mulai berdansa.
Berputar, gaunnya berputar.
Mengalir, kedua tangannya mengalir.

Sang bulan meredup, semilir angin terus bertiup.
Gadis itu kemudian berpaling, semakin membisu.

Terdiam.
Sunyi.
Gadis manis itu kemudian tercekat diantara kegelapan malam.

Jakarta,  23 September 2013

Si Anak Rata-Rata

Gadis mungil itu memiliki paras yang ayu dan menawan.

Bola matanya kecokelatan dihiasi dengan bulu mata lentik.

Hidungnya lancip mungil.
Wajah nya pun selalu dihiasi bibir merah yang tak lelah tersenyum.

Hadir disetiap kesulitan , hadir disetiap luka dan membasuhnya.

Seakan kegelisahan sirna ketika dia datang.

Layaknya seperti gadis biasa, dia penuh mimpi dan harap.

Mencintai dunia negeri dongeng, bermimpi akan menjadi seorang putri kelak.

 

Harinya dipenuhi dengan macam-macam cerita.

Yang manis, dengan penuh canda bersama kawan-kawannya.

Yang pahit, membuat kelima inderanya seolah tak berfungsi.

Yang bagai pisau, menyayat ditiap integumennya.

 

Gadis itu cerdas, tetapi ada seorang yang lebih cerdas.

Gadis itu cantik, tetapi ada wanita yang mirip dengan porcelain dolls.

Gadis itu baik, tetapi ada seorang anak lelaki yang setiap hari bekerja, demi memberi ibunya yang renta, segelas susu hangat.

 

Gadis itu tak pernah mengeluh, tak pernah merasa susah dengan keadaanya.

Dia tidak pernah merasa di bawah, walau dia tau banyak orang yang berusaha menginjaknya.

Tidak pula ia merasa berada di atas orang lain, tidak pula ia menatap orang lain dengan angkuhnya.

Dia si anak rata-rata. 

Demikian aku menyebutnya. Dengan segala keterbatasan dan kemampuan dibalik kesederhanaan, aku mengagguminya.

 

kids-porcelain-doll
         kids-porcelain-doll

 

Jakarta, 11 September 2013

Kegelisahan Tak Berdasar

Selamat siang,

Tepat pada detik ini, lagi-lagi saya ditampar oleh kalimat-kalimat yang kamu rangkai.
Lancang sekali kamu menyakiti saya tanpa kamu tahu, tanpa kamu mengerti.

Ya tapi sudahlah, kesekian kalinya saya saja yang menyesap rindu yang bagai racun.
Memang sudah banyak racun yang mengalir deras dalam rongga-rongga vaskular ku.

Saya yang memutar jauh melewati jalan yang berbeda, dan saya yang hanya selalu melihat punggung mu dari kejauhan.
Saya benci mengakui, tapi saya menikmati segala bentuk racun yang kamu berikan.

Pernah saya berucap sendiri saya ingin menjadi bidadari surga mu, jika Tuhan tidak izinkan saya bersamamu sekarang.
Saya hanya berharap Tuhan bermurah hati, hingga akhirnya saya bisa bersamamu.

Sepersekian detik timbul kerisauan, benarkah ini jalan terbaik yang saya pilih?
Puluhan detik berikutnya, saya mampu berjalan lagi, sendiri.

Apa di menit selanjutnya saya harus terjatuh lagi?

Jakarta, 09 September 2013 13:18

A little note

Sebenarnya, yang saya tulis disini kebanyakan merupakan late post.
Karena terkadang cukup aulit untuk merangkai dalam kata-kata.

Saya senang menuliskan ide-ide, mimpi-mimpi yang saya alami, kisah yang telah terjadi bertahun-tahun lamanya, dan sebagainya.

Saya senang berpuisi, membuat sajak menggunakan kata-kata indah yang memiliki makna tersembunyi.

Terima kasih, selamat istirahat.

A Confession

Selamat Malam,

 

Satu tulisan lagi sebelum saya kembali tidur dan bermimpi.

Ada beberapa kalimat yang saya ingin tuliskan untuk cinta pertama ku.

 

Saya senang dengan semua yang kamu berikan ke saya.

Ini tentang tulisan yang kamu tuliskan ditujukan kepada saya.

Terkadang kamu tidak pernah mengatakan itu untuk saya, tapi di sudut hati terkecil saya mengatakan atau boleh dibilang mengharapkan; bahwa yang kamu tuliskan itu memang untuk saya.

Saya senang dengan semua lagu yang kamu berikan.

Saya senang tiap kamu tersenyum lembut pada saya, seolah hanya untuk saya.

Saya senang dengar suara kamu, menenangkan pikiran saya.

 

Tiba-tiba saya teringat tentang cokelat yang tidak kamu ambil , karena malu. Itulah kamu.

Tiba-tiba saya teringat kamu yang berpindah di sisi kiri saya ketika kita hendak menyeberang jalan.

Tiba-tiba saya teringat perasaan bergetar ketika menunggu kehadiran kamu.

 

Hanya saya yang punya cerita ini, dan kamu punya cerita mu sendiri.

Saya tidak pernah mengetahui perasaan kamu sesungguhnya, biarlah kamu saja yang paham dengan perasaanmu.

 

Kamu berada jauh di titik ketinggian yang tidak bisa saya raih.

Kamu adalah bintang inspirasi saya.

Cahaya yang datang dari masa lalu.

Apa yang kamu pikirkan tentang saya?

 

Depok, 08 September 2013.

Sebuah Mimpi dan Harapan

Selamat malam,

Beberapa hari terakhir ini, saya selalu bermimpi.

Bermimpi dalam tidur saya, di waktu REMs saya melewati fase nya.

Sebenarnya itu adalah mimpi yang diatur.

Saya ingin mengingat semua kejadian yang otak saya proyeksikan.

 

Yang berada di mimpi saya, adalah sahabat-sahabat saya, dengan kejadian yang tidak mungkin di dunia nyata.

Dan bicara soal mimpi, ada hal yang lain dengan suatu mimpi.

Mimpi saya yang berkaitan dengan masa lalu, kalau tidak dibilang berlebihan, boleh lah saya bilang tentang cinta pertama.

 

Apa dia masih memiliki mimpi yang sama dengan saya?

Apakah saya kerap hadir di REMs nya?

 

Ada apa dengan rajutan kisah masa lalu yang hadir di masa kini?

Padahal saya sudah lelah merajut sendirian.

 

Mimpi, alam bawah sadar, tempat saya merealisasikan yang tidak sanggup saya hadirkan di dunia nyata.

Kamulah bentuk dari salah satu mimpi itu.

 

Depok, 08 September 2013