Kegelisahan Tak Berdasar

Selamat siang,

Tepat pada detik ini, lagi-lagi saya ditampar oleh kalimat-kalimat yang kamu rangkai.
Lancang sekali kamu menyakiti saya tanpa kamu tahu, tanpa kamu mengerti.

Ya tapi sudahlah, kesekian kalinya saya saja yang menyesap rindu yang bagai racun.
Memang sudah banyak racun yang mengalir deras dalam rongga-rongga vaskular ku.

Saya yang memutar jauh melewati jalan yang berbeda, dan saya yang hanya selalu melihat punggung mu dari kejauhan.
Saya benci mengakui, tapi saya menikmati segala bentuk racun yang kamu berikan.

Pernah saya berucap sendiri saya ingin menjadi bidadari surga mu, jika Tuhan tidak izinkan saya bersamamu sekarang.
Saya hanya berharap Tuhan bermurah hati, hingga akhirnya saya bisa bersamamu.

Sepersekian detik timbul kerisauan, benarkah ini jalan terbaik yang saya pilih?
Puluhan detik berikutnya, saya mampu berjalan lagi, sendiri.

Apa di menit selanjutnya saya harus terjatuh lagi?

Jakarta, 09 September 2013 13:18

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s