Ungkapan kejujuran, tantangan yang terabaikan.

31 Desember 2013, dikala senja, paket antaran JNE tiba, terbungkus rapi berwarna orange. Meski begitu isinya berwarna kelabu, bersampul rangkaian pecahan wajah berbeda ; Truth or Dare, begitu tulisnya.

Ada apa dengan buku berwarna hitam ini?
Mengapa demikian aku tertarik memesannya?

Alasan pertama : ekspektasi yang tinggi karena The Fabulous Udin sebelumnya (padahal TFU dan TOD ini merupakan content yang berbeda tentunya)
Alasan kedua : karena buku ini hasil sayembara dari parabebeb dan LOLers nya si tampan @WOWkonyol (bohong deh kubilang tampan, cuma biar dia seneng aja *ampun nyol*)

16 Rahasia. 16 Tantangan. 16 Kejutan.

Yang terakhir itu benar-benar disuguhkan sekali dalam tiap tulisan dibuku ini.

Truth or Dare, berawal dari sayembara pencipta tokoh Udin-imut yang begitu deh. Iya, mungkin si Onyol pingin pinjam julukannya Suri si ratu sayembara. Hehehe

TOD merupakan kumpulan cerpen yang sudah diseleksi demikian rupa oleh Onyol yang katanya sih sampe bikin dia sakit kepala.
15 cerita karya peserta sayembara dan 1 cerita dari Onyol sendiri.

Kamu akan menemukan ide yang berbeda dari tiap cerita meski dengan tema yang sama, game Truth or Dare, (tau kan gamenya? kalo gak tau baca aja buku ini. hehe). Jelas saja karena ada 16 otak berbeda yang merangkai gagasan dan kemudian digoreskan dalam cerita.

Dimulai dari Anomali Hitam dengan aliran cerita yang saya pribadi sangat menyukai penuturannya. Ah, Botol Soda dengan akhir cerita yang mengejutkan. Atau The Bottle of Truth dan End the Truth or Dare yang dikemas dalam imajinasi.

To be honest, memang ada beberapa cerita yang kurang saya sukai. Bukan, bukan karena cara penulisannya, ceritanya pun menarik sebenarnya, tapi karena memang saya kurang suka cerita seperti itu. (Seperti apa? Rahasia). Sayangnya, tidak menyukai, bukan berarti tidak menikmati. 🙂

Masih banyak judul yang menyimpan berjuta misteri dan sensasi, yang kalau saya beberkan semua kalian bisa-bisa tidak penasaran lagi, hehe.

Yang paling menyakitkan, adanya cerita berjudul Tersimpan.
Pembatas buku berbentuk botol ini kuletakan dihalaman 54, sewaktu-waktu saya ingin mengulangnya lagi.
Sungguh, kisah Radit dan Aliya sangat amat membuat hati ku terenyuh. Lobus-lobus otak ku seakan berdenyut, berusaha mengenang sebuah kisah. Entah karena cara Aliya melepaskan, atau perasaan Radit yang tak pernah kembali.
Aku sendiri tidak bisa membayangkan jika aku diposisi Aliya. Karena itu, dari cerita ini aku semakin yakin dengan pilihanku. *Curcol sedikit lah (thanks to: Herika Angie)*

Untuk penikmat kata seperti aku, Lentera Padam penuh dengan goresan yang indah dan penuh luka.
Hai Tera, kamu mengingatkanku pada seseorang. Puisi Nyala Lilin mu telah membakar ku.

Tera, terjebak dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri. Aku tahu bukan keinginannya untuk mencintai dengan diam.
Lentera, yang sumbunya tersulut cinta, harus segera padam.

Seperti biasa, sang penulis, senang ‘menyakiti’ para pembacanya. (Meski begitu, beruntung gak ada dialog ala-ala Onyol :-|)

Mungkin sekarang hanya sedikit yang mencintai para pujangga, tapi saya adalah pecinta kata-kata yang diurai dengan indah.

Katakanlah, ini bukan review sebuah buku. Ini hanya sebagian kecil cerita dari seorang pembaca yang takjub dengan kemasan TOD.
Masih banyak cerita yang harus kalian jelajahi sendiri dalam TOD, karena setiap orang akan memilih jalan nya sendiri.

Terima kasih teruntuk para penulis yang telah menyajikan kerinduan, kesenduan dan kebahagiaan dalam satu buku ini.

Salam hangat.

Jakarta, 01 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s