Category Archives: Love

Coretan Masa Lalu

Ada seorang pria yang menarik hatiku.

Dia pemalu, pendiam dan dingin. Tipikal pria yang menutup diri. Entah apa yang dipikirannya, ketika suatu hari dia harus bertemu dengan seorang wanita, yang pribadinya jauh berbeda dengannya, bagai bumi dan langit.

Wanita cantik, ceria, rusuh, terlalu terbuka. Seorang wanita yang memaksa masuk ke kehidupan sang pria. Runyam sudah hidupnya, kurasa. Seharusnya aku mengerti, si pria mulai membangun tembok yang tinggi, tembok pertahanan demi melindungi dirinya dari si wanita. Sedih rasanya, namun wanita itu tidak sensitif dengan keadaan itu dan terus saja mengajak pria tersebut kedalam hidupnya.

Genggaman tangan yang hangat untuk pertama kalinya dan pelukan yang erat, sudah cukup menyadarkan bagaimana perasaan wanita itu terhadapnya, o love..they evolved..

Setiap wanita yang pertama jatuh hati, entah bagaimana rasanya tidak mungkin berhasil. Diantara persimpangan jalan, manakah yang harus dipilih? Kembali keawal, atau terus berjalan kedepan.

Ada kalanya wanita itu ingin pergi karena sikap dingin sang pria ketika diwaktu yang sama, ucapan happy birthday diantara puluhan orang, dialah yang pertama.

Saat wanita itu mendukung cintanya, dia sendiri yang pertama kali menangis. Lalu apa dia harus bilang begitu saja, kalau dia mencintainya?

Ketika sang pria mulai kehilangan tujuan, hanyalah dia satu-satunya yang tetap menyemangatinya… He is start to cry, how sweet……

Keduanya sedang berjuang, terhadap dirinya masing-masing…… Ketika berbicara cinta, seharusnya mampu meruntuhkan tembok ego..

It’s long way to go, but miracle does exist…….. I believe…….

Advertisements

Kepada Yang Terkasih

Tidak tahu kah kamu sayang aku begitu merindu
Hingga rindu ini jadi sebuah penyakit
Endapan rindu membuatku sakit kepala setengah mati

Tidak tahu kah kamu sayang aku sedang berjuang
Berjuang mengalahkan ego ku untuk bersama kamu
Ego yang dulu merusak semua mimpi indah ku

Tidak kah kamu ingin mengerti sayang
Mengapa aku begitu keras kepala seperti ini
Atau kah kamu terlanjur membenci

Aku berusaha menahan keinginanku sayang
Tapi bersamamu begitu candu
Seperti yang telah kukatakan sebelumnya
Perasaanku adalah racun untukku
Perasaanmu adalah racun untukku pula

Aku tidak akan lagi menyalahkan
Aku tidak akan lagi menghindar
Aku tidak akan lagi bersembunyi

Kamu sudah tau bagaimana aku mencintaimu

Biarkan aku menanti hari dimana kita merajut mimpi indah bersama

Bukan aku lagi yang merajut sendiri
Bukan tentang kamu dan mereka
Tapi tentang kita

★ ★ ★

Selamat pagi Bintang ku
Saya selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan semoga hari mu menyenangkan

Selamat pagi dan lekas sembuh.

Jakarta, December 14th 2013 08:05

Bintang yang paling terang

Selamat pagi.

Semalam saya tidur lebih awal. Ini semua gara-gara terlalu bahagia makan kwetiaw yang enak setelah lama ngidamnya.
Rasanya jam 8 pun sudah teler, dan membuat saya lupa diri dengan BAB II beserta Herpes Zoster. Oke lupakan.

Enggak nyangka aja ternyata semalem dapet text dari seseorang, bintang inspirasi saya. Enggak penting sih, ya tapi enggak tau juga penting/tidak. Pokoknya jam 5 pagi baru dibalas. itupun gara-gara keinget mau puasa hari ini.

Mungkin sang bintang sudah redup dikala fajar, jadi dari bumi cahaya nya tidak terlalu terlihat, tapi aku yakin dia sedang bersembunyi sembari memperhatikan.

Hari ini tidak terlalu banyak acara, kecuali dengan kerjaan yang menumpuk akibat terlalu malas menggerakan tangan. Lagipula sel abu-abu saya tampaknya masih malas beraktifitas.

Yasudah demikian saja hari ini. Semoga sang bintang tetap bersinar, semoga sang matahari selalu tegar.

Jakarta, 24 September 2013

Kegelisahan Tak Berdasar

Selamat siang,

Tepat pada detik ini, lagi-lagi saya ditampar oleh kalimat-kalimat yang kamu rangkai.
Lancang sekali kamu menyakiti saya tanpa kamu tahu, tanpa kamu mengerti.

Ya tapi sudahlah, kesekian kalinya saya saja yang menyesap rindu yang bagai racun.
Memang sudah banyak racun yang mengalir deras dalam rongga-rongga vaskular ku.

Saya yang memutar jauh melewati jalan yang berbeda, dan saya yang hanya selalu melihat punggung mu dari kejauhan.
Saya benci mengakui, tapi saya menikmati segala bentuk racun yang kamu berikan.

Pernah saya berucap sendiri saya ingin menjadi bidadari surga mu, jika Tuhan tidak izinkan saya bersamamu sekarang.
Saya hanya berharap Tuhan bermurah hati, hingga akhirnya saya bisa bersamamu.

Sepersekian detik timbul kerisauan, benarkah ini jalan terbaik yang saya pilih?
Puluhan detik berikutnya, saya mampu berjalan lagi, sendiri.

Apa di menit selanjutnya saya harus terjatuh lagi?

Jakarta, 09 September 2013 13:18