Category Archives: Mimpi

beberapa cerita tentang mimpiku? represent as dream journal.

Ketika Terang Menjadi Gelap

Hari kini sudah berganti, menjelang pagi.
Sudah seperempat malam rasanya terlewati.

Aku bermimpi lagi tentang kamu, bintangku,
tapi ini mimpi yang menakutkan, yang menyeramkan.

Padahal dua malam yang lalu aku bermimpi mendapatimu tersenyum kepadaku.

Mimpi ini tervisualisasi sempurna, dibumbui dengan kisah fantasy.
Mimpi yang sangat ‘nyata’, sehingga memaksaku terjaga karena reaksi denial.

Mungkin akan terpikir aneh, tapi untukku sendiri mungkin ini suatu peringatan, atau suatu kenyataan yang harus kuterima, yang harus kusadari?

Bintangku, aku tahu kamu memiliki banyak teman dekat, tapi kamu memiliki satu yang paling dekat.
Kamu dan dia, menjadi vampire. pembunuh, yang diutus untuk membunuhku dan orang terdekatku. Iya, benar vampire.

Sangat jelas, kamu yang berlumuran darah. Menggunakan setelan jas, dan kuku panjang yang khas. Kulitmu sepucat tak bernyawa.
Kuakui kamu vampire  tampan hampir seperti Edward Cullen tanpa sparkly effect nya.

Ketika tiba waktunya kamu ingin menbunuhku.
Tanpa ragu kamu mendekatiku, bersama.dengan dua adikku.
Aku hanya terdiam, mengetahui niatmu.
Aku hanya berdiri, berusaha melindungi adikku.
Kau bilang “Selamat malam.”
Aku tak menjawab.
Rasanya takut dan kebahagiaan yang bercampur ketika melihatmu.
Tatapanmu tampak tidak ada ragu untuk melakukan tugasmu.
Meski begitu, aku sempat memberi pelukan untukmu, yang pertama dan terakhir kalinya.
Setelah berhasil menguasai tubuh dan pikiranku, kubawa kabur adikku dengan mengelabui kalian.

Lari, kami terus berlari sampai kehabisan napas.
Berlari, berlari. Sampai kami menghentikan langkah disebuah masjid megah yang sangat jauh.
Dan entah kenapa, sudah banyak orang disana yang bertujuan untuk bermalam. Orang-orang itupun adalah teman-temanku. Kami pun merasa sedikit aman. Selanjutnya aku menidurkan adikku dan menitipkan kepada dua sahabatku disitu.

Dengan langkah gontai, aku menjauh dari keramaian.
Kupandangi smartphoneku, ku kirimkan pesan melalui messanger yang biasa kita lakukan.

Kenapa? Begitu tanyaku. Lama kau tak membalas, persis ketika didunia nyata. Kamu pun membalas, memberi alasan kenapa harus membunuhku.

Masih pantaskah aku untukmu? Pesanmu yang terakhir.

Setelah itu terasa gelap, aku terjaga, dengan buliran sisa air mata.

Aku menangis dalam tidur.

Dadaku masih sesak, benar-benar seperti habis menangis.
Aku menghela napas panjang.

Apa ini wujud ketakutan ku terhadap ujian nanti?
Apa dalam sudut hatiku yang jauh kamu masih sosok yang menakutkan?
Apa yang kutakutkan adalah kamu yang akan jauh dariku?
Apa ini menunjukkan perasaanmu memang tidak pernah ada untukku?

Kenapa?

Kata orang mimpi hanyalah kembang tidur, tanpa arti.
Lainnya, mimpi adalah bentuk perasaan atau keinginan alam bawah sadar.

Kamu memang menakutkan untukku.
Dan apakah ini artinya aku harus menyerah?
Menyerah tentang cinta masa lalu?

Ah, lagi-lagi melankolis begini kalau bicara tentang masa lalu.
Sudahlah, aku benar-benar takut.

Maaf kalau boleh tahu di jam yang sama apa kamu bermimpi tentang aku? 

Depok, 21 October 2013 04:42

Advertisements