Category Archives: A moment

Review film : LUCY ; kemampuan otak 100%.

Setelah bekerja keras selama lima hari, tidak ada salahnya untuk menghibur diri pada waktu weekend ini kan?

Bagaimana kalian menghabiskan weekend? Pergi piknik, memancing, jalan-jalan ke mall, atau hanya baca buku dirumah?

Kalau saya pergi nonton (sebenarnya nonton pada Jumat kemarin), sebuah film yang trailernya saya lihat wow that’s amazing, LUCY.

Lucy-Banner

LUCY, film garapan sutradara Luc Besson ini, meraih kesuksesan yang luar biasa di Hollywood. Film yang bertemakan Sci-fi, action, thriller ini dibintangi aktris dan aktor berkelas. Nama Scarlett Johansson (The Avengers, 2012) berperan sebagai tokoh utama cantik, Lucy, bagi penggemar Marvel pasti ingat dengan wanita seksi satu ini. Kemudian Morgan Freeman dengan suara yang tak terlupakan, juga aktor senior Min-sik Choi (Oldboy, 2003).


lucy-2014-movie-screenshot-29

Film LUCY berawal dengan seorang gadis bernama Lucy (Scarlett Johanson) dan kekasih-baru-semingguan nya, Richard (Pilou Absaek). Disini Richard ingin melakukan transaksi dengan seseorang disebuah hotel, namun Richard tidak ingin melakukannya sendiri, sehingga dia meminta Lucy. Sayangnya Lucy curiga dengan kelakuan Richard, dan ia menolak. Richard pun memaksanya dan memasangkan borgol beserta koper itu. Lucy pun terpaksa menemui orang tersebut, dengan cara memanggilnya melalui resepsionis.

Lucy

Mr. Jang (Min-sik Choi) menyambut Lucy dikamarnya, menyuruhnya membuka koper. Dengan takut Lucy membuka koper itu yang ternyata berisi bungkusan berwarna biru. Lucy yang tidak tahu-menahu tentang semua ini kemudian ditawari untuk menyelundupkan barang tersebut, Lucy yang menolak pun dibungkam mulutnya (baca: dipukul).

Lucy bangun dengan perut yang telah diperban. Kemudian dibawa ke sebuah ruangan, disana dia melihat 3 orang pria yang sepertinya sama dengan kondisinya. Seorang dokter mengatakan padanya ‘itu’ adalah narkoba jenis baru CPH4, yang akan dijual ke Eropa. Lucy pasrah tak bisa berbuat apapun, dia kemudian disekap.

Hal yang terjadi adalah, kantung tersebut bocor dan menyebabkan kristal biru itu terserap oleh usus Lucy. Setelah mengalami beberapa kejadian, Lucy pingsan. Saat bangun keadaan menjadi berbeda, kondisinya berubah.

Saat ini Lucy berubah menjadi manusia yang memiliki kemampuan 100% dalam menggunakan otaknya. Lucy kemudian menghubungi Prof.Norman (Morgan Freeman) dan mengkonfirmasi kondisi tubuhnya.

Her ability

Apa yang akan Lucy lakukan dengan kemampuannya ini? Bagaimana kekuatan otak manusia yang sebenarnya saat 100%, sedangkan saat ini kita hanya menggunakan 10% saja?

**

Film yang seperti mimpi dan khayalan ini membuat kepala saya mumet menolak semua logika didalam film ini. Kemampuan luar biasa Lucy memang membuat saya kagum, namun tidak bisa saya  terima dengan akal saya.

Singkirkan tentang logika, adegan tembak-menembak disini biasa saja dibandingkan dengan film action lain (tapi saya jarang nonton film action). Kemudian saat Lucy kebut-kebutan dijalan tidak terlalu mendebarkan. Parenting guide film ini, adalah D (Dewasa), menurut saya bukan karena adegan sexual harrasment (bukan berarti gak ada juga sih), tapi mengingat adegan ini penuh tembak-tembakan, pembunuhan vulgar, darah dimana-mana dan pembedahan yang bikin mual, memang ditujukan untuk dewasa (dalam artian; dewasa yang tidak terpengaruh dengan adegan film, yang tidak nyata). Lalu apa yang istimewa dari LUCY? Tentu saja kemampuan dari si gadis Lucy! I’m so excited to have this ability, seriously!

Sayang sekali, Morgan Freeman berakting dengan narasi nya (oh, atau mungkin ada film Morgan yang gak saya tahu, mohon maaf sebelumnya), siapa coba yang kalo lihat fotonya Morgan Freeman langsung ingat jelas suara khasnya? Scarlett Johansson diawal adegan menggambarkan Lucy si gadis biasa, hidup normal. Tetapi setelah memiliki kemampuan super, berubah menjadi seperti orang lain. Sungguh luar biasa, bahkan mungkin kalian akan lupa kalau Lucy pernah menjadi gadis biasa. Sedangkan Min-sik Choi, memainkan tokoh antagonis yang sangat mencekam, kentara sekali atmosfer ‘menekan’ dari dia.

Terlepas dari logika akal manusia saat ini, LUCY memang pantas jadi film yang mencenangankan. Penilaian pribadi saya, storyline 5/10 (Limitless lebih kompleks), actor/actress 8/10, scene 7/10 (video yang diputar ditengah jalan cerita agak mengganggu, meskipun berkaitan).

Semoga review ini dapat membantu.

Selamat berakhir pekan.

 

Depok, 30 Agustus 2014 13.00

Advertisements

The Little Persian and Her Guardian

Suatu pagi berawal dari obrolan ringan dengan aa , kalo makhluk paling lucu itu ya kucing, apalagi anak kucing. Terus berlanjut dengan, ayo kita pelihara satu, hahaha. Kata aa iyaudah ntar ditaro dikontrakan khusus, soalnya dirumah pada gak suka kucing.

Sebulan dari pembicaraan itu gak ada kelanjutannya sih, hiks, merasa di-PHPin. Aku pun sibuk mempersiapkan sidang skripsi. Akhirnya setelah sidang skripsi tanggal 25 April 2014, aa jemput dan langsung ngajak ke Pasar Hewan. Terus katanya boleh ambil satu. Hahahaha senangnya.

Setelah muter-muter berkali-kali, banyak banget pilihannya. Begitu pula keinginanku. Yang pertama pingin punya Russian Blue, kayak Arsene. Kedua, Himalayan kayak Karupin. Yang ketiga kayak Amanojaku Atau white solid dengan mata biru. Ketemu sih kriteria kedua dan keempat, eh gak sesuai budget. Lagipula si mpus kayak gak tertarik sama kami.

Akhirnya disatu toko, ada anak kucing yang mengeong-ngeong waktu disamperin. Aktif sih enggak, cuma dia gak betah dikandangin, buktinya pas aku keluarin dia diem. Aduh ini kitten lucu sekali, mungil dan mukanya melas, kasihan sekali deh keadaanya. Kurus, kecil, ringan, bulunya kusam dan sayu. Padahal masih banyak kitten yang lebih sehat (seenggaknya lebih berat), aktif dan lincah. Tapi chemistry sama kitten ini muncul. Lagipula aa juga seneng soalnya ekornya meliuk-liuk. Kuambil lah dia, kubawa pulang. Selama dikeranjang dia nangis terus. Benar-benar kasihan dan gak tega. Sesampainya dirumah, ternyata kitten ini gak mau makan, tingkahnya juga seperti ketakutan.

Azalea namanya, kuberi nama demikian sesuai bahasa bunga azalea, cinta pertama. Dalam bahasa Yunani, Azalea ini artinya kering, kayak badan Lea.  Masih gak mau makan beberapa hari, Lea kubawa ke Vet, katanya Lea cacingan. Karena berat cuma 500 gram belum boleh dikasih obat cacing. Kemudian disarankan dikasih wet food, madu dan vitamin biolysine.

Atas : pertama adopt, bulu kusam,kecil, kurus lihat aja perutnya kedalem dan pipinya tirus. Bawah : pipi gembul, perut bulet, bulu yang habis kena jamur perlahan tumbuh.
Atas : pertama adopt, bulu kusam,kecil, kurus lihat aja perutnya kedalem dan pipinya tirus.
Bawah : pipi gembul, perut bulet, bulu yang habis kena jamur perlahan tumbuh.

Lea kecil sangat manja, maunya digendong tapi sama aku saja. Kalo dideketin orang lain nangis, dikandangin nangis selain itu dia juga lemas. Kalo ditinggal pasti nyamperin. Sungguh menggemaskan tapi kasihan.

Akhirnya sekitar 3 minggu stelah adopsi Lea kami sepakat untuk mencarikan teman, pilihan jatuh di FJB Kaskus, ada kitten Himalaya. Setelah janjian, ternyata si kitten sudah besar. Syukurlah dia penyayang dan bisa cepat akrab sama Lea. Selain itu dia ramah sekali, sama kami pun cepat nurut. Duh senangnya.

Si jantan yang sok cool, tapi mukanya imut-imut.
Si jantan yang sok cool, tapi mukanya imut-imut.

Kucing Himalaya ini kuberi nama Heimdall, dewa penjaga Bifrost dalam mitologi Nordic. Penjaga untuk Lea. Heimdall mendapat julukan the whitest of the Gods sesuai dengan bulunya yang putih dan sealpoint khas Himalaya serta bermata biru.

Semenjak ada Heim, Lea jadi sedikit aktif. Suka jalan-jalan, mau makan dan minum meskipun masih lemas. Saking lemasnya, dia mau minum dari ember dan kecebur sampai kuyup. Lea pun kena jamur L. Beberapa minggu setelah pengobatan akhirnya Lea sembuh tapi bulunya rontok semua.

Tanggal 26 Juni, Lea dan Heim dibawa lagi ke Klinik Hewan Depok buat check up. Heim beratnya dari 1,7kg jadi 1,4kg tapi sehat. Keadaan Lea membaik dengan berat 1kg akhirnya dikasih obat cacing. Seminggu setelah dikasih obat cacing, makannya semakin lahap dan makin gendut. Tanggal 17 Juli, dikasih lagi obat cacing, kali ini untuk Lea dan Heim.

Tanggal 24 Juli 2014, setelah check up, akhirnya Lea dan Heim boleh divaksin. Saat itu Lea BB-nya 1,5kg dan Heim jadi 2,2kg.

Badanku dulu, tak segini, keranjangku pyn tak muat lagi ............
Badanku dulu, tak segini, keranjangku kini tak muat lagi …………

Duo gendut ini sekarang hobinya bergulat, lari-larian, lompat-lompatan dan makan -_______- Si Heim ini jahil, suka ngeplak kepalanya Lea sampai si Lea nangis. Tapi lama-kelamaan Lea jadi berani sama Heim, suka dibalasnya Heim kalo jahil. Hahaha. Mereka ini lucu, kalo diajak main aku dicuekin. Kalo aku cuekin, mereka nyamperin. Haduh.

siap-siap gulet
siap-siap gulet

Tapi syukurlah kini mereka berdua pada sehat. Memang berat diawal, bahkan pernah berniat membuang Lea (maafin aku ya Lea), tapi gak tega lagipula jadi dimarahin aa. Walaupun beda umur Lea dan Heim jauh mereka tetep akrab.

Terima kasih untuk drh.Eri, drh.Tyas dan kru di Klinik Hewan Depok. Konsultasinya enak, pada sabar dan gak memberatkan pengobatan (karena aku awam tentang perawatan kitten, kalo disuruh opname pasti iya iya aja) . Juga kalo grooming disini bersih banget, telaten. 2x grooming ditempat lain, berbeda banget hasilnya, Heim dan Lea lebih wangi, tambah cakep dan bersih, terutama bagian telinga (ditempat yang lain, pernah masih kotor banget). Selain itu juga aku jadi rajin browsing diforum perawatan kitten dan semacamnya.

This is my new experience on pet, semoga Heim dan Lea sehat terus.

Salam, Cat Lovers.

Tentang Aku dan Sang Penjaga Waktu

“Time doesn’t exist, clocks do. – unknown

Kutipan diatas saya temukan dipersilangan Internet.

Mereka bilang, waktu itu tidak ada, kemudian manusia yang menciptakan.

Dunia, bumi, berputar begitu saja sesuai siklusnya, 24 jam katanya.

Tapi toh kalo 24 jam itu gak ada, bumi akan tetap berputar, hingga diperintahkan untuk berhenti.

Sadar atau tidak, berapa banyak manusia yang terperangkap dengan ‘waktu’nya sendiri.

Manusia budak waktu, mereka bilang waktu adalah uang, ditukarkan dengan sejumlah kehidupan mereka.

Seandainya 24 jam itu tidak ditemukan, masih kah manusia akan ribut kehilangan waktu? Kekurangan waktu? Sibuk menyesuaikan kehidupan mereka dengan waktu, mengejar waktu?

Kalau seandainya ‘waktu’ tidak diciptakan, apa manusia tidak bisa bekerja, tidak bisa hidup, hanya tau Jam berapa sekarang? Jam pagi, jam siang, jam malam.”

Manusia sekarang terbiasa diatur, oleh aturan yang diciptakan mereka sendiri.

Saya punya cerita sendiri tentang waktu.

Dari kecil aku tidak terbiasa menggunakan aksesoris yang menempel ditubuh, termasuk jam tangan.

Saya tahu tentang waktu, terutama hari minggu, dari serial animasi yang ditayangkan ditelevisi. Jam 7 adalah saatnya Ultraman beraksi. Jam 8 adalah dimana tayangan Doraemon berakhir. Jam 9 adalah saatnya Detective Conan muncul dan tengah hari adalah dimana seluruh tayangan tersebut habis, baru saya makan dan mandi. Boleh dibilang, saya adalah penjaga waktu yang handal, saya adalah jam berjalan.

Sampai kapanpun saya gak pernah pakai jam tangan, melihat jam sekenanya dari layar handphone atau melirik jam dinding, selebihnya saya tidak terlalu tertarik.

Hingga akhirnya saya harus ujian OSCE, katanya kalo OSCE haru pakai jam tangan yang ada detiknya. Ya sudah saya pun minta dibelikan papa. Untuk apa? Kata papa waktu itu, untuk ujian, yang ada detiknya ya jawabku (maksudnya jam digital).

Jangan kalian pikir jam tangan yang dibelikan adalah jam cantik yang banyak dipakai perempuan atau jam yang berkilau-kilau begitu atau jam berwarna cerah dan indah. Jam yang dibelikan papa, jam digital Casio, warnanya hitam, bentuknya kecil, ketika dipakai dipergelangan tanganku sangat pas, saya merasa keren. Terima kasih papa. Sama-sama, semoga ujiannya lancar terus, katanya.”

Saya lebih suka memakai jam tangan secara terbalik, dimana bagian penunjuk waktunya berada menutupi nadi pergelangan tangan, pun dengan aksesoris lain, misalkan gelang.

Jamnya selalu kupakai kalau OSCE, iya, cuma kalo OSCE atau SOCA (tapi lama-lama lupa) atau ujian tulis kalau ingat untuk memakainya. Harian, cuma saya taruh dikotaknya. Barang berharga untuk saya gak pernah saya pamerin, pasti saya simpan ditempat yang aman, dan hanya beberapa yang bisa ikut menikmati.

 

Jumat 7 Februari 2014 kemarin merupakan OSCE terakhir saya selama pre-klinik, Alhamdulillah tidak terlalu banyak mengalami kesulitan saat ujian, sebelum ujian sudah banyak kesulitan menimpa saya, errr, kecuali satu stase dimana saya buyar karena ke-tidak-profesional-an saya, errr. Pro-justica, p-pro- j-juss-ttica, prrojusticciya, pro-justicia ………………….  Afasia motorik sesaat, ada apa dengan area Broca saya?

Setelah OSCE saya berakhir, jam tangan saya putus menjadi 3 bagian, dibagian pengikatnya.

Image

secara anatomy rusak, secara fisiologis masih baik. hiks

Apakah jam tangan saya tahu bahwa tugasnya sudah berakhir?

Rasanya saya memang tidak terlalu menyukai ‘waktu’, tapi karena saya hidup didunia penuh aturan, saya rasa nanti pasti saya butuh jam tangan juga, tapi nanti. Saat ini belum ada yang menarik.

Ah, kecuali dengan pocket watch, itu cantik sekali. Saya membelinya di toko, dengan ornament bunga mawar kesukaan saya. Hehe.

Image

untuk aku yang enggan memakai jam tangan, 

tapi selalu bertanya Jam berapa sekarang?

Ya begitulah cerita saya dengan sang penjaga waktu.

Sampai jumpa dilain waktu.

Jakarta 09 Februari 2014 ; jam berapa sekarang?

Akhirnya!!!!

Akhirnya selesai juga!!!!!

Judul yang tepat untuk hari ini.

Coba diingat, waktu-waktu kelam harus bangun tengah malam.

Coba diingat, kertas-kertas yang berhamburan.

Coba diingat sindrom-sindrom pre-exam.

Hari ini adalah SOCA terakhir

bukan terakhir semester, bukan terakhir blok aja,

tapi yaaa terakhir.

Sampai tiba bertemu dengan SOCA-SOCA lainnya, pseudoSOCA, dan sebangsanya.

Karena masa-masa itu sudah berlalu, rasanya butuh sesuatu pengingat, biar tidak lupa rasanya.

Ada yang ingat? Pertama kali blok FBS? Teori sel dasar? Telomer?

Faal, histo, anatomi? Lemak, protein, karbohidrat? BAKTERI??

Ada yang ingat, perasaan tidak tahu apa-apa, harus apa, harus bagaimana?

Masih ingat, first date sama Sherwood, Junquira, Moore, HARPER?

Rasanya perut melilit dicekokin harper, ngapalin siklus kreb, yang ujung-ujungnya cuma ngehasilin berapa atp. Atau biosintesis protein yang tiba-tiba tadaaaa bisa jadi asam amino.

Pun akhirnya bisa adaptasi sama SOCA, tetep aja SOCA pre-syndrome selalu muncul. Udah berapa liter kopi yang terminum, hingga resistent? (Saya sih gak demen ngopi tapi)

Ada beberapa moment yang ingin saya ceritakan Waktu FBS 1-4 saya dapet Lemak dan Darah. Awal kasus klinik adalah RPS, kasus tentang kehamilan. EMS, kalo gak DM , tiroid (maaf lupa). DMS, dapet lipoma. HIS, syok anafilaktik (asli bikin syok, yang nguji orang PK).

Kemudian tiba lah pada blok NBS.

Kebayang gak, syaraf itu bentuknya kayak serabut-serabut, saling berkaitan, ada sinap-sinapnya terus harus dihubungkan sama hipotalamus.

Anggap aja hipotalamus adalah pembangkit tenaga, dan syaraf itu kabel-kabelnya.

Untuk bekerja listriknya harus diatur sedemikian rupa, lewat reaksi kimia.

Ribet? Gak kebayang? Sama, gue juga puyeng mikirinnya.

Selain tentang persyarafan, blok ini juga digabung sama psikiatri, tambah sulit? Emang, gue serasa jadi pasiennya.

Tapi ya, mau gimana lagi, karena SOCA adalah ujian penuh kejutan, ada sekitar 8-9 kasus yang harus dipahami dan diujikan tanpa tahu kamu dapat kasus apa.

Ditambah lagi rumitnya fisiologi, gimana mau ngerti ke patologinya?

Nama gue ada diurutan gelombang pertama, iya, gelombang ketok pintu.

Gue dapet kasus Stroke hemoragik.

Gue gak lulus, gue shock.

Yaudah, karena baru pertama kali gak lulus, gue down, meracau dan jadi pasien psikiatri *gak deh* Coba tanya sama temen-temen sekosan gue, tampang gue kaya gimana waktu itu …

Toh akhirnya gue ngulang, dapet kasus trauma kepala, pengujinya baik hati, gue lulus.

Habis NBS apa ya? SSS kalo gak salah, Special Sensory System.

Gue dapet kasus Korpus Alienum.

Gue shock, gue gak ngerti.

Tapi gue lulus, dan menjelaskan ala konjungtivitis biasa *nangis dijutekin penguji*

“Korpus itu badan, alien itu benda asing. Jadi ada benda asing di mata.” Penguji diem, gue ikutan diem.

Ada gue lho dimata kalian, hohohoho
Ada gue lho dimata kalian, hohohoho

 

Selanjutnya, CVS. Wahhh ini, gue udah hapal mati sama pre-load jantung, bagian jantung dan penyakitnya.

Apalagi pas diruang flipchart gue ngerasa gampang banget ngerjainnya, asyik dong.

Ternyata penguji gue orang perfeksionis

Gue gak lulus.

Sampe sekarang gue gak tau, itu kasus gue gagal jantung sama hipertensi, atau gagal jantung e.c hipertensi, atau gagal jantung tiba-tiba hipertensi.

Terus gue ngulang, dapet Buerger’s disease, pengujinya baik.

Pas waktu RS, gue dapet kasus TB.

Ternyata yang nguji gue adalah seroang penguji yang sama waktu gue blok CVS dan seorang yang sama dengan penguji SSS. (Iya SOCA diuji sama dua orang penguji)

Gue panik. Diagnosis gue salah.

Tapi ternyata gue lulus, gue dipuji katanya analisis gue bagus. Gue mengsem-mengsem.

*terus waktu CVS kenapa kamu ninggalin aku ha? kenapaaaa???*

Kemudian ada blok GUS, gue dapet trauma uretra. Waktu blok GIS, dapet apendisitis.

Terus pas di blok Tropical Medicine, kata temen gue ini SOCA terakhir. Kenyataannya masih ada satu lagi. Oh God, why?

Selama ini, selama kasus SOCA, gue selalu berdoa, Ya Tuhan jangan Engkau beri aku kasus infeksi, ya pokoknya jangan aja, saya bingung kenapa bakteri punya toksin, macem toksinnya apa, terus bedainnya gimana. Terus kenapa kalo infeksi bisa bla bla bla..

Di Tropical Medicine, semua kasus berkaitan dengan mikroorganisme tersebut.

Serasa habis sudah harapan…….

Sampe gue telepon bokap dengan nada sedih dan berharap dihibur

Pa, pelajaran kali ini aku gak bisa banget, susah aku gak ngerti. “Yaudah mbak kamu belajar aja, btw kamu udah makan belom, jaga kondisi aja, kalo ngantuk tidur bla bla bla…”

Hal yang wajar sebelum ujian, minta doa dari orangtua. Tiap mau ujian gue selalu sempetin diri untuk minta ditelepon. Cuma semenit dua menit, dan selalu berakhir dengan pesan jangan lupa makan, jaga kesehatan dibanding diingetin kamu udah hapal definisi dari tetanus? udah bisa nyambungin Trias Virchow? paracetamol dosisnya berapa? BCG dimana suntiknya? kalo penyelaman repetitive prosedur dekompresinya gimana?

Kalo ditanya gitu mungkin gue tambah stress.

Dan pada hari Senin 3 Februari 2014, tibalah SOCA blok MATRA.

Gue gelombang pertama, gue panik. Gue trauma pas blok NBS.

Gue gak bisa tidur, gak bisa makan, gak bisa ngapa-ngapain, gue ngambek sama buku-buku gue. Kenapa kalian gak ngerjain sendiri sih diruang flip chart.

Sampe kampus, gue langsung masuk ruang flipchart tanpa diisolasi.

Ternyata gue dapet DVT, terus penguji gue baik dua-duanya. Hehehe, yaudah.

SOCA terakhir alhamdulillah, gue lulus, memuaskan.

Walau gue lupa hukum tekanan, soalnya gue udah tertekan duluan.

Kayaknya gue gampang banget ya ngelewatinnya?

Enggak, kalian salah.

Tiap malam antara PR dan tugas yang bertumpuk.

Pagi ada kuliah dan tutorial, siang sampe sore ada lab.

Tiap sampe kosan, cape, gue tidur dulu.

Kalo malam gak begadang, kapan lagi gue nyelesain semua itu?

Perlahan jadi makhluk nokturnal, selalu tidur jam 1 pagi.

Kalo gak aktif malam hari, kapan gue bisa main sama teman-teman? Hahaha.

Terus, untung gue punya pasangan pengertian. Jarang gue ajak main.

Dari pagi sampe sore gue cuekin, baru malem gue telepon, dia sambil ngantuk-ngantuk.

Tiap mau SOCA dan ujian lain, ritual telepon nangis-nangis dulu.

Yaudah intinya adalah, ini semi berakhir. Toh nanti pas klinik gue bakal menemukan ujian yang sejenis. Walau gak sama persis.

Ujian terselubung, ujian yang nyata.

Bagaimana cara kita menghadapi masalah, meskipun terjatuh, pasti bisa bangkit lagi. Itulah manusia.

Terima kasih atas waktu luangnya membaca curhatan panjang lebar saya.

Besok saya ada OSCE, mohon didoakan ya.

Btw, ini post udah dari hari Senin yang lalu dalam bentuk draft dan baru bisa dirapiin sekarang.

Goodbye, dear you, SOCA 😉

Jakarta 06 Februari 2014 09:31

Serpihan

Aku tidak punya selera humor yang cukup baik untuk membuatmu tertawa, kata teman-temanku aku payah.
Aku berusaha sekenanya melucu, padahal menurutku sudah jauh lebih baik.
Tapi kamu tetap tersenyum, itu saja membuatku senang.
Kamu tersenyum, tapi sepertinya bukan ditujukan untuk aku.

Aku bilang, kamu menawan hatiku, kamu hanya tertawa.
Aku bilang, hati ku sudah untuk kamu, kamu diam saja.

Baiklah, aku mengerti, aku demikian tidak lucu.

Tapi ini bukan lawakan terbaik yang sedang aku bawakan.
Dan aku berkompetisi dengan siapa?
Begitu susahnya memberi kamu sebuah lelucon.

Aku tidak menyenangkan atau aku memang menyusahkan?

Ini cerita yang menarik, aku bersusah payah untuk melihat mu tertawa kepadaku.
Tidak apa, tunggu saja sebentar lagi, sampai nanti kamu bilang aku berhenti.
Tapi kalau kamu suruh aku berhenti, pasti aku akan terluka.

to be continued ······

Ungkapan kejujuran, tantangan yang terabaikan.

31 Desember 2013, dikala senja, paket antaran JNE tiba, terbungkus rapi berwarna orange. Meski begitu isinya berwarna kelabu, bersampul rangkaian pecahan wajah berbeda ; Truth or Dare, begitu tulisnya.

Ada apa dengan buku berwarna hitam ini?
Mengapa demikian aku tertarik memesannya?

Alasan pertama : ekspektasi yang tinggi karena The Fabulous Udin sebelumnya (padahal TFU dan TOD ini merupakan content yang berbeda tentunya)
Alasan kedua : karena buku ini hasil sayembara dari parabebeb dan LOLers nya si tampan @WOWkonyol (bohong deh kubilang tampan, cuma biar dia seneng aja *ampun nyol*)

16 Rahasia. 16 Tantangan. 16 Kejutan.

Yang terakhir itu benar-benar disuguhkan sekali dalam tiap tulisan dibuku ini.

Truth or Dare, berawal dari sayembara pencipta tokoh Udin-imut yang begitu deh. Iya, mungkin si Onyol pingin pinjam julukannya Suri si ratu sayembara. Hehehe

TOD merupakan kumpulan cerpen yang sudah diseleksi demikian rupa oleh Onyol yang katanya sih sampe bikin dia sakit kepala.
15 cerita karya peserta sayembara dan 1 cerita dari Onyol sendiri.

Kamu akan menemukan ide yang berbeda dari tiap cerita meski dengan tema yang sama, game Truth or Dare, (tau kan gamenya? kalo gak tau baca aja buku ini. hehe). Jelas saja karena ada 16 otak berbeda yang merangkai gagasan dan kemudian digoreskan dalam cerita.

Dimulai dari Anomali Hitam dengan aliran cerita yang saya pribadi sangat menyukai penuturannya. Ah, Botol Soda dengan akhir cerita yang mengejutkan. Atau The Bottle of Truth dan End the Truth or Dare yang dikemas dalam imajinasi.

To be honest, memang ada beberapa cerita yang kurang saya sukai. Bukan, bukan karena cara penulisannya, ceritanya pun menarik sebenarnya, tapi karena memang saya kurang suka cerita seperti itu. (Seperti apa? Rahasia). Sayangnya, tidak menyukai, bukan berarti tidak menikmati. 🙂

Masih banyak judul yang menyimpan berjuta misteri dan sensasi, yang kalau saya beberkan semua kalian bisa-bisa tidak penasaran lagi, hehe.

Yang paling menyakitkan, adanya cerita berjudul Tersimpan.
Pembatas buku berbentuk botol ini kuletakan dihalaman 54, sewaktu-waktu saya ingin mengulangnya lagi.
Sungguh, kisah Radit dan Aliya sangat amat membuat hati ku terenyuh. Lobus-lobus otak ku seakan berdenyut, berusaha mengenang sebuah kisah. Entah karena cara Aliya melepaskan, atau perasaan Radit yang tak pernah kembali.
Aku sendiri tidak bisa membayangkan jika aku diposisi Aliya. Karena itu, dari cerita ini aku semakin yakin dengan pilihanku. *Curcol sedikit lah (thanks to: Herika Angie)*

Untuk penikmat kata seperti aku, Lentera Padam penuh dengan goresan yang indah dan penuh luka.
Hai Tera, kamu mengingatkanku pada seseorang. Puisi Nyala Lilin mu telah membakar ku.

Tera, terjebak dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri. Aku tahu bukan keinginannya untuk mencintai dengan diam.
Lentera, yang sumbunya tersulut cinta, harus segera padam.

Seperti biasa, sang penulis, senang ‘menyakiti’ para pembacanya. (Meski begitu, beruntung gak ada dialog ala-ala Onyol :-|)

Mungkin sekarang hanya sedikit yang mencintai para pujangga, tapi saya adalah pecinta kata-kata yang diurai dengan indah.

Katakanlah, ini bukan review sebuah buku. Ini hanya sebagian kecil cerita dari seorang pembaca yang takjub dengan kemasan TOD.
Masih banyak cerita yang harus kalian jelajahi sendiri dalam TOD, karena setiap orang akan memilih jalan nya sendiri.

Terima kasih teruntuk para penulis yang telah menyajikan kerinduan, kesenduan dan kebahagiaan dalam satu buku ini.

Salam hangat.

Jakarta, 01 Januari 2014

Risauan dibawah Langit

Ada apa dengan bintang malam ini?
Cahaya nya lebih jauh dari biasanya

Ada apa gerangan dirinya begitu sendu
Tatapannya gelisah

Sedari tadi langit membilas ego jutaan manusia
Sang bintang tampak enggan tampak

Padahal aku begitu merindu
Menangisi kesendirian apa gunanya

Padahal bukan kesendirian yang membuat pilu
Melainkan kekosongan

Jika kamu ingin aku tinggal
Aku akan tetap dibawah langit

Jika kamu ingin aku pergi
Berhenti menatapku dari atas langit

Aku hilang pun tak apa
Kamu hilang akan jadi perkara

Bintang, kemanakah cahaya mu akan bersinar terang.

Jakarta, 20 Desember 2013 22:26

Kepada Yang Terkasih

Tidak tahu kah kamu sayang aku begitu merindu
Hingga rindu ini jadi sebuah penyakit
Endapan rindu membuatku sakit kepala setengah mati

Tidak tahu kah kamu sayang aku sedang berjuang
Berjuang mengalahkan ego ku untuk bersama kamu
Ego yang dulu merusak semua mimpi indah ku

Tidak kah kamu ingin mengerti sayang
Mengapa aku begitu keras kepala seperti ini
Atau kah kamu terlanjur membenci

Aku berusaha menahan keinginanku sayang
Tapi bersamamu begitu candu
Seperti yang telah kukatakan sebelumnya
Perasaanku adalah racun untukku
Perasaanmu adalah racun untukku pula

Aku tidak akan lagi menyalahkan
Aku tidak akan lagi menghindar
Aku tidak akan lagi bersembunyi

Kamu sudah tau bagaimana aku mencintaimu

Biarkan aku menanti hari dimana kita merajut mimpi indah bersama

Bukan aku lagi yang merajut sendiri
Bukan tentang kamu dan mereka
Tapi tentang kita

★ ★ ★

Selamat pagi Bintang ku
Saya selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan semoga hari mu menyenangkan

Selamat pagi dan lekas sembuh.

Jakarta, December 14th 2013 08:05

Ketika Terang Menjadi Gelap

Hari kini sudah berganti, menjelang pagi.
Sudah seperempat malam rasanya terlewati.

Aku bermimpi lagi tentang kamu, bintangku,
tapi ini mimpi yang menakutkan, yang menyeramkan.

Padahal dua malam yang lalu aku bermimpi mendapatimu tersenyum kepadaku.

Mimpi ini tervisualisasi sempurna, dibumbui dengan kisah fantasy.
Mimpi yang sangat ‘nyata’, sehingga memaksaku terjaga karena reaksi denial.

Mungkin akan terpikir aneh, tapi untukku sendiri mungkin ini suatu peringatan, atau suatu kenyataan yang harus kuterima, yang harus kusadari?

Bintangku, aku tahu kamu memiliki banyak teman dekat, tapi kamu memiliki satu yang paling dekat.
Kamu dan dia, menjadi vampire. pembunuh, yang diutus untuk membunuhku dan orang terdekatku. Iya, benar vampire.

Sangat jelas, kamu yang berlumuran darah. Menggunakan setelan jas, dan kuku panjang yang khas. Kulitmu sepucat tak bernyawa.
Kuakui kamu vampire  tampan hampir seperti Edward Cullen tanpa sparkly effect nya.

Ketika tiba waktunya kamu ingin menbunuhku.
Tanpa ragu kamu mendekatiku, bersama.dengan dua adikku.
Aku hanya terdiam, mengetahui niatmu.
Aku hanya berdiri, berusaha melindungi adikku.
Kau bilang “Selamat malam.”
Aku tak menjawab.
Rasanya takut dan kebahagiaan yang bercampur ketika melihatmu.
Tatapanmu tampak tidak ada ragu untuk melakukan tugasmu.
Meski begitu, aku sempat memberi pelukan untukmu, yang pertama dan terakhir kalinya.
Setelah berhasil menguasai tubuh dan pikiranku, kubawa kabur adikku dengan mengelabui kalian.

Lari, kami terus berlari sampai kehabisan napas.
Berlari, berlari. Sampai kami menghentikan langkah disebuah masjid megah yang sangat jauh.
Dan entah kenapa, sudah banyak orang disana yang bertujuan untuk bermalam. Orang-orang itupun adalah teman-temanku. Kami pun merasa sedikit aman. Selanjutnya aku menidurkan adikku dan menitipkan kepada dua sahabatku disitu.

Dengan langkah gontai, aku menjauh dari keramaian.
Kupandangi smartphoneku, ku kirimkan pesan melalui messanger yang biasa kita lakukan.

Kenapa? Begitu tanyaku. Lama kau tak membalas, persis ketika didunia nyata. Kamu pun membalas, memberi alasan kenapa harus membunuhku.

Masih pantaskah aku untukmu? Pesanmu yang terakhir.

Setelah itu terasa gelap, aku terjaga, dengan buliran sisa air mata.

Aku menangis dalam tidur.

Dadaku masih sesak, benar-benar seperti habis menangis.
Aku menghela napas panjang.

Apa ini wujud ketakutan ku terhadap ujian nanti?
Apa dalam sudut hatiku yang jauh kamu masih sosok yang menakutkan?
Apa yang kutakutkan adalah kamu yang akan jauh dariku?
Apa ini menunjukkan perasaanmu memang tidak pernah ada untukku?

Kenapa?

Kata orang mimpi hanyalah kembang tidur, tanpa arti.
Lainnya, mimpi adalah bentuk perasaan atau keinginan alam bawah sadar.

Kamu memang menakutkan untukku.
Dan apakah ini artinya aku harus menyerah?
Menyerah tentang cinta masa lalu?

Ah, lagi-lagi melankolis begini kalau bicara tentang masa lalu.
Sudahlah, aku benar-benar takut.

Maaf kalau boleh tahu di jam yang sama apa kamu bermimpi tentang aku? 

Depok, 21 October 2013 04:42

A high wall

Rasanya aku kepayahan, menghadapi sesuatu yang bentuknya tidak nyata.

Rasanya aku sedang merasa tak berdaya, akan sesuatu yang datang.
Bebannya berat. Dinding yang harus ku lampui sangat lah tinggi.

Aku ingin mendengar suara orang-orang yang kusayangi.
Yang kubutuhkan, walau hanya suara saja.

Jakarta, 24 September 2013